Puskesmas Karang Jati Pantau Gizi Balita, Stunting Masih Jadi Tantangan

GARVI.ID, BALIKPAPAN – Puskesmas Karang Jati terus memantau kesehatan dan gizi balita di wilayahnya. Dari 466 balita yang ditimbang dan diukur tinggi badannya, tercatat 67 anak atau sekitar 14,57 persen mengalami stunting. Selain itu, 19 balita (4 persen) mengalami kekurangan gizi berat atau wasting, dan 59 anak (12,8 persen) masuk kategori underweight.

“Mayoritas balita memang dalam kondisi normal, tapi tetap ada sekitar seperempat yang memerlukan perhatian lebih,” kata dr. Niken Dayu Anggraini, Kepala UPTD Puskesmas Karang Jati, Rabu (19/11/2025). 

Puskesmas Karang Jati telah melakukan berbagai intervensi untuk menangani masalah gizi ini. Program tersebut termasuk pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil dan remaja putri, serta suplementasi TTD untuk mencegah anemia. “Intervensi gizi ini kami lakukan sejak dini agar anak-anak dapat tumbuh optimal,” tambah dr. Niken.

Data juga menunjukkan bahwa sebagian balita mengalami masalah berat badan per tinggi badan, indikator penting untuk menentukan stunting. “Grafik ini membantu kami memantau anak mana yang memerlukan perhatian lebih cepat. Pemeriksaan rutin di posyandu dan puskesmas sangat penting,” jelasnya.

Selain intervensi gizi, Puskesmas Karang Jati menekankan peran orang tua dan masyarakat. Orang tua diminta aktif memantau pertumbuhan anak dan rutin membawa anak ke posyandu. Kader posyandu juga terus melakukan edukasi tentang pentingnya gizi seimbang dan suplementasi yang tepat.

“Deteksi dini akan lebih efektif mencegah stunting. Orang tua tidak boleh menunggu anak mengalami masalah berat atau tinggi badan yang signifikan,” ujar dr. Niken.

Puskesmas juga mendorong kolaborasi lintas sektor, termasuk sekolah, untuk memastikan anak menerima asupan gizi memadai. Dengan upaya ini, Puskesmas Karang Jati berharap angka stunting dapat ditekan, dan generasi muda di Karang Jati tumbuh sehat, cerdas, dan siap menghadapi tantangan di masa depan.

“Perbaikan gizi bukan hanya tanggung jawab puskesmas, tapi seluruh masyarakat. Bersama-sama kita bisa menurunkan angka stunting,” tutup dr. Niken. (Adv/Puskesmas/Bpp) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *