GARVI.ID, BALIKPAPAN – Seorang warga Kelurahan Teritip, Balikpapan Timur, kembali mempertanyakan kejelasan pembebasan lahan untuk proyek aliran Sungai Teritip yang tak kunjung selesai sejak 2019. Rumah milik Hendra Taufik, yang berada tepat di area cekungan aliran sungai, terus menjadi langganan banjir hingga kini.
Hendra menceritakan bahwa sejak sebelum proyek itu direncanakan, ia sudah membangun rumah di kawasan tersebut. Namun pada 2019, ia mendapat undangan terkait rencana pembebasan lahan untuk pembangunan bendungan dan aliran sungai. Meski demikian, proses pembebasan tak pernah tuntas.
“Saya dapat undangan dari kecamatan tahun 2019 untuk kelengkapan berkas pembebasan lahan, tapi sampai sekarang tidak ada kejelasan sama sekali,” ujarnya dalam wawancara, Sabtu (29/11/2025).
Ia menuturkan akibat pembangunan yang belum tuntas, kawasan rumahnya justru semakin sering diterjang banjir sejak 2022. Rumah tersebut sempat dihuni oleh adiknya, namun banjir berulang membuat kondisi bangunan rusak dan sulit ditempati.
“Air itu bisa naik sampai selutut. Rumah makin lama makin rusak karena terus kena endapan air,” kata Hendra.
Ia mengaku sudah membersihkan rumahnya beberapa kali dan berencana menempatinya kembali, tetapi hujan yang terus turun membuat banjir kembali datang.
Hendra menegaskan bahwa tanah miliknya berada tepat di sudut pertemuan badan sungai, sehingga aliran air mudah meluap. Ia juga menyampaikan bahwa hampir semua warga di sekitar lokasi sudah menerima ganti rugi, kecuali dirinya.
“Di samping rumah saya sudah lama diganti rugi. Bangunannya bahkan sudah dihancurkan karena proyek. Tinggal tanah saya saja yang belum,” ujarnya.
Menurutnya, tahun 2024 ia kembali mendapat undangan untuk kelengkapan berkas pembebasan lahan, namun hasilnya tetap tidak jelas. Ia bahkan sudah mengajukan surat keberatan kepada Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV pada 19 November 2025, lengkap dengan dokumen IMTN, surat pernyataan penguasaan tanah negara seluas 350 meter persegi, serta foto kondisi rumah saat banjir.
“Surat keberatan itu juga sudah diserahkan kepihak BWS Kalimantan IV karena dampak banjir. Tapi sampai sekarang tetap tidak ada kepastian,” tegasnya.
Hendra berharap pemerintah kota dan BWS Kalimantan IV segera memberikan jawaban resmi terkait status tanahnya, mengingat kondisi rumah terus memburuk dan hujan yang masih sering turun membuat banjir semakin rutin terjadi.
“Saya cuma ingin kepastian. Tanah saya itu harusnya masuk pembebasan, tapi pembayarannya selalu ditunda-tunda dari 2019,” ujarnya.
Hingga kini, ia menunggu kabar lanjutan dari pemerintah maupun BWS terkait kelanjutan proyek aliran Sungai Teritip dan nasib rumahnya yang berada di titik paling rawan banjir. (*)







