GARVI.ID, BALIKPAPAN – Di kawasan perbukitan hijau Jalan Soekarno–Hatta KM 8, Kelurahan Manggar, Balikpapan Timur, hadir sebuah destinasi yang tengah naik daun: Bukit Kebo. Lokasi ini menjadi contoh tumbuhnya wisata alam berbasis komunitas yang berkembang tanpa meninggalkan karakter lokal dan kelestarian lingkungan.
Awalnya hanya hamparan bukit dengan peternakan kerbau, Bukit Kebo kini bertransformasi menjadi ruang wisata bernuansa natural dengan gazebo, area glamping, hingga villa untuk penginapan. Rencana pembangunan skybridge sekarang tengah dipersiapkan untuk mempermudah akses dan memberikan pengalaman baru bagi pengunjung.
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Balikpapan, Ratih Kusuma, menilai kemunculan Bukit Kebo sebagai bukti kreativitas warga dalam mengembangkan wisata yang ramah alam.
“Perkembangannya pesat tapi tetap menjaga nuansa alam. Pengelola memperhatikan kenyamanan pengunjung sekaligus tetap mempertahankan kontur dan habitatnya,” ujar Ratih, Jumat (31/10/2025).
Popularitas Bukit Kebo meningkat, terutama untuk sesi foto prewedding, pemotretan kreatif, hingga wisata glamping. Lanskap hijau, udara segar, dan suasana tenang menjadi daya tarik yang berbeda dari wisata pantai yang biasanya mendominasi Balikpapan.
Ratih juga menyempatkan diri melakukan sesi pemotretan di lokasi ini, sebagai bentuk dukungan untuk promosi wisata lokal berbasis komunitas. Namun, ia tetap mengingatkan perlunya menjaga keseimbangan agar pengembangan wisata tidak mengganggu ekosistem.
“Lokasinya masih punya karakter alam liar, jadi konsep kegiatannya harus disesuaikan. Event bertema alam seperti camping atau sarasehan lebih cocok. Kalau konser besar, justru bisa mengganggu satwa di sana,” jelasnya.
Selain wisata alam, Bukit Kebo mulai membuka ruang bagi UMKM lokal untuk ikut tumbuh bersama. Ke depan, pengelola menargetkan pengembangan sport tourism seperti hiking dan aktivitas outdoor lain agar potensi wisata semakin beragam.
Ratih menyebut pendekatan ini serupa dengan Desa Wisata Meranti, di mana aktivitas wisata, pemberdayaan UMKM, dan pelestarian alam berjalan seimbang. “Mereka melihat dulu respon masyarakat. Bertahap, konsepnya makin matang,” tambahnya.
Dengan pendekatan organik dan berbasis kearifan lokal, Bukit Kebo terus berkembang menjadi ikon wisata alam baru di Balikpapan—menggabungkan pesona lanskap hijau, kreativitas warga, dan komitmen menjaga lingkungan.
Nama Bukit Kebo berasal dari masa ketika kawasan ini masih menjadi peternakan kerbau. “Kebo” dalam bahasa Jawa berarti kerbau, dan nama tersebut dipertahankan sebagai identitas asli yang kini ikut melekat pada brand wisata alam tersebut. (Adv/Disporapar/Bpp)













