GARVI.ID, BALIKPAPAN – UPTD Puskesmas Karang Jati menggelar Lokakarya Mini Lintas Sektor di aula puskesmas, Kamis (20/11/2025). Kegiatan ini mempertemukan berbagai unsur masyarakat untuk membahas program prioritas kesehatan serta evaluasi capaian di wilayah Kelurahan Karang Jati.
Kepala UPTD Puskesmas Karang Jati, dr. Nikeh Dayu Anggraini, MARS, menjelaskan bahwa lintas sektor yang diundang meliputi perwakilan Kelurahan, Babinsa, Bhabinkamtibmas, ketua RT, LPM, hingga Karang Taruna.
“Kita mengundang seluruh lintas sektor. Pak Camat dan Pak Lurah sebenarnya juga diundang, hanya hari ini keduanya berhalangan hadir,” jelasnya.
Menurutnya, forum tersebut menjadi ruang koordinasi rutin untuk membahas berbagai isu kesehatan di tingkat kelurahan. Dalam triwulan ini, sejumlah agenda prioritas menjadi perhatian utama.
“Yang pertama kita membahas program-program prioritas, termasuk info kesehatan terbaru, perubahan tarif retribusi, layanan gratis POL dari Pemerintah Provinsi, dan antrean online Mobile JKN,” terangnya.
Selain itu, puskesmas juga menyampaikan perkembangan program penanggulangan stunting, imunisasi, serta capaian program kesehatan lainnya di wilayah Karang Jati. Forum tersebut juga dimanfaatkan untuk memetakan peran lintas sektor dalam memperkuat berbagai program yang sedang berjalan.
dr. Nikeh menegaskan pentingnya keterlibatan seluruh elemen masyarakat agar hasil yang dicapai semakin maksimal.
“Harapannya, dengan koordinasi lintas sektor ini, semua pihak bisa saling membantu sehingga program-program kesehatan dapat berjalan lancar,” ucapnya.
Ia mencontohkan, peran ketua RT sangat dibutuhkan untuk mengaktifkan posyandu agar jumlah peserta meningkat. Dengan begitu, intervensi seperti pemberian makanan tambahan bagi balita stunting dapat dilakukan lebih optimal.
Meskipun beberapa capaian program kesehatan menunjukkan hasil menggembirakan, terdapat beberapa tantangan yang masih memerlukan perhatian khusus. Salah satunya adalah tingginya angka stunting di wilayah tersebut.
“Kasus stunting kita masih tinggi, yaitu 14,5 persen. Sebenarnya sudah ada banyak intervensi seperti pemberian makanan tambahan, tablet tambah darah untuk ibu hamil dan remaja putri, serta penimbangan rutin,” jelasnya.
Namun, ia menekankan bahwa stunting bukan hanya persoalan gizi, melainkan juga masalah kesehatan lingkungan.
“Kami meminta bantuan RT untuk mendukung dari sisi lingkungan, seperti memastikan akses air bersih dan ketersediaan jamban sehat,” katanya.
Lewat kolaborasi lintas sektor ini, Puskesmas Karang Jati berharap seluruh program kesehatan dapat berjalan lebih efektif dan berdampak langsung pada masyarakat. (Adv/Puskesmas/Bpp)
