Wisata Alam, Sejarah, dan Edukasi di Desa Sumber Sari Kukar

GARVI.ID, TENGGARONG – Desa Sumber Sari di kecamatan Loa Kulu Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) memiliki potensi wisata yang menarik. Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dewi Arum bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dan Dinas Pariwisata (Dispar) terus berupaya mengembangkan destinasi wisata di desa tersebut.

Salah satu tujuannya adalah untuk meningkatkan minat masyarakat di Kukar untuk berwisata. Oleh karena itu, berbagai sarana dan prasarana terus dibangun agar menarik wisatawan.

Ketua Pokdarwis Dewi Arum, Dedi mengatakan bahwa destinasi wisata di Desa Sumber Sari tidak hanya berupa wisata alam, tetapi juga wisata sejarah dan edukasi.

“Untuk wisata alam, kita punya pemandangan yang indah dan udara yang sejuk. Kedepannya, kita juga akan mengangkat wisata sejarah dengan menampilkan beberapa peninggalan yang ada di desa kami. Selain itu, kita juga akan menambahkan wisata edukasi yang sedang dalam tahap pengembangan dan pembuatan,” ujar Dedi, Senin (19/2/2024).

Pokdarwis juga bekerja sama dengan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) desa untuk menyediakan makanan dan kerajinan tangan yang khas.

“Untuk UMKM, kita bekerja sama dengan masyarakat sekitar yang membuat makanan dan kerajinan tangan. Kita juga melibatkan PKK desa untuk membantu memasarkan produk-produk tersebut,” ungkap Dedi.

Namun, Dedi juga mengakui bahwa ada beberapa kendala yang dihadapi dalam pengembangan destinasi wisata di Desa Sumber Sari. Salah satunya adalah masalah finansial.

“Kendala yang kami hadapi mungkin hanya finansial untuk pembangunan destinasi wisata di tempat kami. Kami dari pengurus sangat mengharapkan bantuan dari pemerintah maupun pihak lain,” tutur Dedi.

Selain itu, Dedi juga mengkhawatirkan dampak negatif dari aktivitas penambangan yang berada di sekitar destinasi wisata. Ia berharap agar penambangan tidak merusak alam dan mengganggu sektor pertanian di desa tersebut.

“Yang mengkhawatirkan itu lebih ke meningkatnya intensitas penambangan di sekitar destinasi wisata. Karena menyangkut perusakan alam ditambah lagi dari sektor pertanian,” pungkas Dedi. (adv)