GARVI.ID, BALIKPAPAN – Angka stunting di Balikpapan mengalami peningkatan dari 19,6 persen menjadi 21,6 persen, angka ini merupakan data terbaru dari Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan. Hal ini menunjukkan kenaikan sebesar 2 persen. DKK juga memastikan telah menyiapkan sejumlah langkah untuk mengatasinya.
“Kami saat ini berupaya keras untuk menurunkan angka stunting di Balikpapan. Salah satu langkah yang kami ambil adalah dengan menjalankan program pendampingan dan pemberian makanan tambahan kepada keluarga yang anaknya terdampak stunting,” kata Kepala DKK Balikpapan, Alwiati, saat diwawancarai pada Kamis (29/8/2024).
Alwiati menekankan bahwa salah satu fokus utama dalam menangani masalah stunting adalah memperbaiki status gizi ibu hamil dan menyusui. “Jika ibu memiliki gizi yang baik, maka bayi yang disusuinya akan mendapatkan ASI berkualitas dan tidak rentan terhadap stunting,” jelasnya.
Namun, menurut Alwiati, tantangan di Balikpapan adalah banyaknya ibu yang bekerja sehingga tidak bisa memberikan ASI eksklusif. Selain itu, pola asuh yang kurang tepat juga berkontribusi terhadap peningkatan stunting, seperti pemberian makanan tambahan terlalu dini yang seharusnya masih dihindari.
“Ada pula kebiasaan ibu hamil yang enggan meminum tablet penambah darah, sehingga anak yang dilahirkan menjadi kurang gizi,” tambah Alwiati.
Ia juga menyoroti bahwa banyak posyandu di Balikpapan saat ini tidak aktif, yang berdampak pada rendahnya kunjungan masyarakat untuk melakukan pengecekan kesehatan anak. “Kami berharap posyandu-posyandu ini dapat diaktifkan kembali dan masyarakat lebih sadar untuk memanfaatkan fasilitas ini,” tegasnya.
Alwiati juga mengingatkan pentingnya persiapan gizi yang baik bagi calon pengantin wanita. “Banyak remaja putri yang ingin langsing sebelum menikah dan enggan mengonsumsi tablet tambah darah, padahal ini sangat penting untuk kesehatan mereka,” pungkasnya. (Adv/Diskominfo)







