GARVI.ID, BALIKPAPAN — Angka stunting di wilayah kerja Puskesmas Karang Rejo kini mencapai sekitar 15,9 persen, naik dibanding tahun sebelumnya. Meski terlihat mengkhawatirkan, pihak puskesmas menilai kenaikan itu tidak serta-merta berarti kasus semakin parah, melainkan bisa menunjukkan perbaikan sistem pencatatan dan pemantauan di tingkat posyandu.
Kepala UPTD Puskesmas Karang Rejo, drg. Farida, menjelaskan bahwa peningkatan angka stunting selalu memiliki dua kemungkinan yang harus dipahami bersama. “Antara dua kemungkinan harus kita syukuri,” ujarnya, Jumat (14/11/2025). “Pertama, kasusnya memang ketemu karena pencatatannya bagus. Posyandu bekerja baik, maka angkanya kelihatan. Kedua, bisa jadi pengukuran sebelumnya kurang akurat.”
Ia menerangkan, ketidakakuratan pengukuran masih mungkin terjadi, terutama jika kader posyandu belum terlatih penuh dalam menggunakan alat atau teknik pengukuran panjang badan anak. “Ada kader yang kurang akurat mengukur. Yang tadinya normal bisa tercatat pendek. Itu bisa terjadi,” jelasnya.
Meski demikian, setiap laporan balita bermasalah terus ditindaklanjuti petugas. Menurut Farida, petugas puskesmas rutin turun ke lapangan untuk memeriksa kondisi sebenarnya. “Kalau ada laporan dari kader bahwa berat badan balita tidak naik, itu pasti kami tindak lanjuti. Kami datang melihat apa sebenarnya masalahnya,” katanya.
Ia menegaskan bahwa peningkatan angka stunting bisa saja merupakan hasil dari perbaikan kualitas pencatatan, bukan semata peningkatan kasus. Dengan sistem monitoring yang lebih rapi, kasus yang selama ini tidak tercatat kini mulai terdeteksi. “Kadang kita baru melihat karena datanya sudah baik,” ujarnya.
Namun, ia menekankan bahwa mekanisme tindak lanjut tetap dilakukan tanpa menunggu angka memburuk. Setiap temuan balita yang tidak naik berat badan, mengalami penurunan kesehatan, atau menunjukkan gejala risiko stunting, langsung dimasukkan dalam daftar intervensi.
“Apapun itu, petugas selalu berusaha untuk mendampingi satu per satu bayi atau balita yang bermasalah,” kata Farida.
Ia berharap masyarakat memahami bahwa angka stunting bukan sekadar statistik, tetapi indikator kerja bersama antara puskesmas, posyandu, dan keluarga. “Yang terpenting adalah respons cepat dan intervensi tepat. Itu yang kami jaga,” pungkasnya. (Adv/Puskesmas/Bpp)







