Apoteker Karang Jati Dorong Edukasi Obat Lewat PIO dan Kelas Ibu Balita

GARVI.ID, BALIKPAPAN — Pemahaman masyarakat mengenai obat sering kali masih terbatas pada cara minumnya saja. Padahal, penggunaan obat yang tepat mencakup cara memperoleh, menyimpan, hingga membuang obat. Di Puskesmas Karang Jati, upaya itu dilakukan melalui Pelayanan Informasi Obat (PIO) yang aktif maupun pasif.

Apoteker Puskesmas Karang Jati, apt. Catherina Mulyanto, S.Farm, mengatakan bahwa PIO menjadi salah satu bentuk pelayanan kefarmasian yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. “PIO itu ada yang aktif dan ada yang pasif. Kalau aktif, kita langsung menjawab pertanyaan dari tenaga kesehatan atau pasien. Kalau pasif, kita membuat materi edukasi seperti leaflet atau postingan Instagram puskesmas,” jelasnya saat diwawancarai, Selasa (25/11/2025).

Selain melalui media, apoteker juga turun langsung ke lapangan melalui berbagai kegiatan program. Salah satunya adalah penyuluhan di kelas Ibu Balita yang rutin digelar puskesmas. Dalam kegiatan itu, apoteker menyampaikan edukasi penting mengenai dapat–gunakan–simpan (DaGus–GiBa) obat.

“Kami mengajarkan ibu-ibu tentang bagaimana memperoleh obat yang tepat, cara menyimpannya, menggunakannya, hingga bagaimana membuang obat yang sudah tidak layak pakai,” tutur Catherina. Menurutnya, edukasi ini penting agar masyarakat tidak salah menyimpan obat atau menggunakan obat yang sudah kedaluwarsa.

Di sisi lain, peningkatan tren penyakit tertentu membuat edukasi obat semakin dibutuhkan. Cuaca panca roba yang tidak stabil menyebabkan lonjakan kasus ISPA. Hampir setiap hari, sebagian besar pasien datang dengan keluhan batuk, pilek, dan demam. “Hampir 80 persen kunjungan sekarang itu ISPA. Tapi banyak yang masih bisa ditangani dengan obat-obatan dasar, tidak semuanya perlu antibiotik,” terangnya.

Melalui PIO, apoteker turut mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan membeli obat keras dan selalu berkonsultasi sebelum menggunakan antibiotik. Edukasi ini sekaligus menjadi upaya menekan risiko resistensi antibiotik.

Baginya, pelayanan farmasi tidak hanya soal menyerahkan obat, tetapi memastikan masyarakat memahami cara penggunaannya secara benar. “Semua edukasi ini pada akhirnya untuk meningkatkan keamanan penggunaan obat di masyarakat,” kata Catherina.

Dengan pendekatan edukatif yang lebih dekat, apoteker berharap masyarakat semakin percaya diri dan bijak dalam menggunakan obat sehari-hari. (Adv/Puskesmas/Bpp) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed