GARVI.ID, BALIKPAPAN- Di tengah geliat ekonomi Kalimantan Timur yang bersiap menyambut status baru sebagai penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), sebuah terobosan lahir dari Balikpapan. PT Pegadaian Area Balikpapan resmi menjadi cabang pertama di luar Pulau Jawa yang dipercaya menjalankan pilot project Bank Emas, sebuah layanan keuangan yang mengubah cara masyarakat memandang dan memperlakukan emas.
Jika selama ini emas hanya dianggap sebagai instrumen investasi atau perhiasan, kini emas diperlakukan layaknya uang. Emas bisa ditabung, ditarik, didepositokan, bahkan dijadikan modal usaha. Konsep ini menjadikan Pegadaian tidak hanya sekadar lembaga gadai, melainkan institusi yang ikut merancang masa depan inklusi keuangan Indonesia.
Deputi Bisnis Pegadaian Area Balikpapan, Tomy Djoko Tri Raharjo, menjelaskan bahwa Bank Emas membawa paradigma baru dalam layanan keuangan.
“Kalau di bank orang nabung uang lalu bisa tarik uang, di Bank Emas konsepnya sederhana: nasabah bisa setor emas, simpan emas, dan menarik emas kembali. Jadi objeknya benar-benar emas, bukan uang,” jelas Tomy saat ditemui di Balikpapan, Kamis (14/8/2025).
Untuk tahap awal, layanan ini memang masih terbatas. Hanya emas batangan atau logam mulia (LM) bersertifikat yang bisa diterima, dengan standar kemurnian minimal 99,99 persen sesuai SNI. Produk yang diakui sementara adalah Antam, Galeri 24 (milik Pegadaian), UBS, dan Lotus Archie.
Skemanya sederhana: jika nasabah memiliki emas batangan Antam 10 gram, maka jumlah itu bisa langsung masuk ke tabungan emas senilai 10 gram. Tidak perlu lagi menjual emas terlebih dahulu.
“Dulu nasabah yang ingin setor emas harus menjualnya lalu dikonversi ke tabungan. Sekarang lebih mudah, konversinya langsung setara. Punya 10 gram, ya jadi 10 gram di tabungan,” tambah Tomy.
Inovasi Bank Emas tidak berhenti di tabungan. Pegadaian juga memperkenalkan layanan Deposito Emas, sebuah produk yang memungkinkan masyarakat menyimpan emas dalam jangka waktu tertentu dan mendapatkan tambahan gramasi setiap bulannya.
Misalnya, seorang nasabah mendepositokan emas 10 gram untuk periode 12 bulan. Pada akhir periode, jumlahnya bisa bertambah menjadi 11 gram. Tambahan satu gram itu diperoleh dari bunga dalam bentuk emas, bukan rupiah.
“Keuntungannya ganda. Harga emas yang cenderung naik akan tetap memberi nilai lebih, ditambah lagi bonus gramasi dari deposito. Jadi emas bukan hanya disimpan, tapi juga berkembang,” ungkap Tomy.
Layanan ini sekaligus memberi pengalaman baru bagi masyarakat yang sebelumnya hanya mengenal deposito dalam bentuk uang. Dengan deposito emas, nilai simpanan lebih terlindungi dari inflasi.
Salah satu kekhawatiran terbesar masyarakat dalam menyimpan emas adalah faktor keamanan. Namun Pegadaian menjawabnya dengan menyiapkan vault berstandar internasional yang diresmikan langsung oleh Menteri Pertahanan Prabowo Subianto pada Februari lalu.
Vault atau berankas raksasa tersebut sanggup menampung belasan ton emas. Sistem pengamanannya berlapis, mulai dari kunci fisik, sidik jari, pemindaian retina, hingga mekanisme pembukaan yang membutuhkan minimal lima orang secara bersamaan. Bahkan ruang penyimpanan dibuat kedap sinyal dan tahan terhadap upaya pembobolan fisik.
“Jangan khawatir soal keamanan. Vault kita sudah diuji dengan teknologi tertinggi. Bahkan kalau ditembak atau dibor, dindingnya tetap tidak bisa ditembus. Sistemnya sudah setara standar internasional,” kata Tomy.
Dengan sistem itu, masyarakat yang menabung emas digital dapat merasa tenang karena setiap gram emas yang tercatat benar-benar ada cadangannya dalam bentuk fisik di vault Pegadaian.
Selama ini, banyak masyarakat menyimpan emas batangan di rumah. Namun risiko kehilangan akibat pencurian, kebakaran, atau kelalaian selalu membayangi. Bank Emas menjadi solusi aman sekaligus fleksibel.
Nasabah bisa menitipkan emas dalam bentuk digital, lalu sewaktu-waktu mencetaknya kembali ke emas fisik sesuai kebutuhan. Proses pencetakan pun fleksibel, mulai dari satu gram hingga ratusan gram.
“Masyarakat tidak perlu khawatir kehilangan. Emas bisa ditabung secara digital, dan sewaktu-waktu bisa dicetak kembali sesuai kebutuhan,” jelas Tomy.
Dengan mekanisme ini, masyarakat tidak lagi harus memilih antara kenyamanan emas digital atau keamanan emas fisik. Keduanya bisa didapat sekaligus melalui layanan Bank Emas.
Hadirnya Bank Emas di Balikpapan juga sejalan dengan misi Pegadaian untuk memperluas literasi keuangan masyarakat. Tagline “Pegadaian Mengemaskan Indonesia” menjadi simbol bahwa emas kini bukan hanya instrumen investasi untuk kalangan tertentu, melainkan instrumen keuangan yang inklusif bagi semua lapisan masyarakat.
Melalui layanan ini, emas bisa dipandang sebagai alternatif yang aman, stabil, dan mudah diakses, baik untuk kebutuhan tabungan, investasi, maupun modal usaha.
Ke depan, Bank Emas akan menghadirkan berbagai layanan turunan. Salah satunya adalah cicilan emas untuk masyarakat yang ingin membeli emas secara bertahap, serta tabungan emas rencana yang memungkinkan nasabah merencanakan pembelian emas dalam jumlah tertentu di masa depan.
Ada pula Peminjaman Modal Kerja (PMK) Emas, sebuah inovasi bagi pengusaha perhiasan. Jika sebelumnya pinjaman berbasis uang, maka di skema ini pengusaha bisa meminjam emas langsung. Misalnya seorang pengrajin membutuhkan 1 kilogram emas untuk bahan baku, maka ia bisa meminjam dalam jumlah yang sama dan mengembalikannya juga dalam bentuk emas.
“Dengan PMK Emas, kita benar-benar menjadikan emas sebagai alat transaksi. Bukan hanya tabungan, tapi juga modal usaha. Jadi komoditas emas kini diperlakukan setara dengan uang,” papar Tomy.
Harga emas yang fluktuatif sering menjadi pertimbangan masyarakat untuk berinvestasi. Namun justru di sinilah letak keunggulan emas dibandingkan instrumen lain. Secara historis, harga emas cenderung naik dalam jangka panjang, sekaligus lebih tahan terhadap gejolak ekonomi.
Tomy mencontohkan, harga emas yang tahun lalu masih sekitar Rp900 ribu per gram kini sudah melampaui Rp1,2 juta per gram. Lonjakan ini dipengaruhi faktor global, termasuk situasi geopolitik dan kebijakan moneter internasional.
“Kelebihan emas adalah nilainya yang selalu tumbuh. Bahkan dalam bentuk tabungan emas digital, kenaikan harga tetap bisa dirasakan oleh nasabah,” katanya.
Dipilihnya Balikpapan sebagai pilot project Bank Emas tentu bukan tanpa alasan. Kota ini dikenal sebagai pintu gerbang Kalimantan Timur sekaligus pusat ekonomi yang tengah berkembang pesat. Dengan hadirnya Bank Emas, Balikpapan diharapkan menjadi contoh bagi daerah lain di luar Jawa.
Jika proyek ini sukses, Pegadaian berencana memperluas layanan Bank Emas ke cabang-cabang lain di Indonesia. Dengan demikian, masyarakat di seluruh wilayah dapat merasakan manfaat inovasi keuangan berbasis emas ini.
Bank Emas adalah langkah besar Pegadaian untuk menjawab kebutuhan masyarakat modern: aman, fleksibel, dan berbasis teknologi. Layanan ini juga memperlihatkan transformasi Pegadaian dari sekadar lembaga gadai menjadi mitra keuangan yang progresif.
“Bank Emas adalah wujud komitmen Pegadaian untuk terus berinovasi. Dengan hadirnya layanan ini, kami ingin emas menjadi instrumen yang benar-benar dekat dengan masyarakat. Dari Balikpapan, kami ingin Mengemaskan Indonesia,” tutup Tomy.
Dengan inovasi ini, Balikpapan tidak hanya mencatat sejarah sebagai kota perintis Bank Emas, tetapi juga menjadi saksi lahirnya era baru di mana emas benar-benar hadir sebagai bagian dari sistem keuangan nasional. (*)







