GARVI.ID, BALIKPAPAN – Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Balikpapan melakukan survei lapangan untuk mengkaji rencana pembangunan akses alternatif yang menghubungkan kawasan Balikpapan Superblock (BSB) dengan Balikpapan Permai.
Rencana tersebut disiapkan sebagai salah satu upaya Pemerintah Kota Balikpapan mengurai kepadatan lalu lintas yang kerap terjadi di sekitar kawasan BSB, terutama pada ruas U-Turn Stal Kuda, depan pintu masuk BSB hingga Simpang Tiga Beruang Madu di Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan MT Haryono.
Kepala Dishub Balikpapan, Muhammad Fadli Fathurrahman, mengatakan survei dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi kawasan sekaligus memastikan kesiapan teknis rencana akses alternatif tersebut.
“Kami dari Dinas Perhubungan Kota Balikpapan melakukan peninjauan secara langsung terkait perencanaan pembangunan alternatif jalan yang menghubungkan antara Grand City ke BSB. Ini merupakan salah satu upaya Pemerintah Kota Balikpapan dalam rangka memecahkan arus kemacetan kendaraan yang senantiasa terjadi di wilayah Balikpapan Superblock,” ujar Fadli, Jumat (4/9/2026).
Berdasarkan hasil peninjauan awal, rencana akses tersebut masih membutuhkan komunikasi dan koordinasi dengan sejumlah pihak, khususnya PT Wulandari selaku pemilik kawasan BSB.
Fadli menyebut kerja sama antara Pemkot Balikpapan dan pihak pengelola BSB menjadi bagian penting dalam memastikan rencana pembangunan dapat berjalan sesuai kebutuhan di lapangan.
“Setelah kami melihat, ini masih perlu dilakukan komunikasi dan koordinasi serta kolaborasi bersama dengan PT Wulandari, pemilik daripada BSB, sehingga kerja sama antara pemerintah kota dengan BSB nanti bisa berkembang lebih baik lagi,” katanya.
Selain aspek kerja sama, pemerintah juga perlu memperhatikan sejumlah kondisi eksisting di lokasi rencana pembangunan. Salah satunya berkaitan dengan Garis Sempadan Pantai (GSP) serta kondisi lebar jalan yang tersedia.
Dishub juga akan mengkaji pola arus kendaraan, terutama kendaraan yang nantinya keluar dan masuk melalui akses alternatif tersebut. Kajian ini diperlukan agar keberadaan jalan baru tidak justru menimbulkan persoalan lalu lintas baru.
Adapun rencana rute yang tengah dikaji meliputi kawasan belakang BSB, Pantai BSB, Kawasan Balikpapan Permai hingga Simpang Le Grandeur. Akses tersebut direncanakan mencakup pembangunan jalan dan jembatan sebagai penghubung antarkawasan.
Menurut Fadli, aspek teknis dan nonteknis perlu dipastikan sejak tahap perencanaan. Pemerintah juga akan berkoordinasi dengan Dinas Pertanahan dan Penataan Ruang (DPPR) untuk memperoleh rekomendasi terkait posisi serta letak pembangunan.
“Beberapa masyarakat ternyata sudah memiliki dokumen surat berupa IMTN dari PT Wulandari. Ini juga harus segera disampaikan kepada DPPR, sehingga akhirnya DPPR bisa memberikan rekomendasi teknis, letak, dan posisi yang tepat,” jelasnya.
Ia berharap rencana pembangunan akses alternatif tersebut dapat memperoleh persetujuan dari seluruh pihak yang berkepentingan, termasuk masyarakat yang berada di sekitar lokasi.
Pembangunan akses alternatif BSB-Balikpapan Permai diharapkan dapat mengurangi beban lalu lintas pada jalur utama kawasan BSB sekaligus meningkatkan konektivitas antarwilayah.
“Harapan kami semoga ini bisa mendapatkan persetujuan dari beberapa pihak, termasuk masyarakat yang terdampak di wilayah ini,” pungkas Fadli. (Adv/Diskominfo/Bpp)
