GARVI.ID, BALIKPAPAN — Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah di Kota Balikpapan semakin mendesak untuk dikelola secara berkelanjutan. Dari total tujuh zona pembuangan, lima di antaranya telah penuh, sementara zona keenam tengah dalam tahap pengisian. Jika tak ada terobosan, zona terakhir, yakni zona tujuh, diprediksi akan penuh dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan, Sudirman Djayaleksana menegaskan, penanganan sampah tidak bisa hanya mengandalkan TPA sebagai solusi hilir. Pengurangan harus dimulai dari rumah tangga.
“TPA itu hilir. Kalau kita tidak mulai dari hulu, yaitu pengurangan dari rumah, maka usia TPA tidak akan lama,” tegas Sudirman saat diwawancarai, Kamis (3/7/2025).
Ia menjelaskan, rata-rata satu keluarga dengan empat anggota menghasilkan sekitar 2,8 kilogram sampah per hari. Jika masyarakat mampu memilah dan mengelola sampah organik serta plastik sejak dari rumah, maka volume sampah yang dibuang ke TPA dapat ditekan secara signifikan.
“Kalau 2,8 kilogram bisa dikurangi 2 kilogram lewat daur ulang dan pengomposan, maka hanya 0,8 kilogram residu yang benar-benar masuk ke TPA. Itu akan sangat memperpanjang usia TPA,” katanya.
Di sisi lain, DLH juga tengah merancang solusi jangka panjang berupa pemanfaatan sampah menjadi energi listrik melalui teknologi Waste to Energy (WTE). Kajian proyek ini telah memasuki tahun kedua dan hampir rampung. Namun, pelaksanaannya masih tertahan karena menunggu regulasi dari pemerintah pusat.
“Kajian kita sudah mendekati final. Tapi karena program ini hanya diperuntukkan bagi kota yang menghasilkan 1.000 ton sampah per hari, maka kita masih menunggu payung hukum berupa Perpres atau Keppres,” jelasnya.
Sembari menanti, Pemkot Balikpapan terus memperkuat infrastruktur pengelolaan sampah dari hulu. Pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) terus digalakkan. Saat ini, TPST Kota Hijau di kawasan Daksa telah selesai dibangun dan ditargetkan beroperasi pada 2026. Tahun ini, pembangunan TPST tambahan juga dilakukan di wilayah Kilometer 12, Graha Indah, serta peningkatan fasilitas MRF (Material Recovery Facility).
“Target kami, pengurangan sampah dari sumber bisa tembus lebih dari 50 persen. Jika ini tercapai, masa pakai TPA bisa jauh lebih panjang,” tutup Sudirman. (Adv/Diskominfo/BPP)











