DPRD Balikpapan Fokus Solusi Krisis Air dengan Pemanfaatan Sungai Mahakam

GARVI.ID, BALIKPAPAN – Kota Balikpapan menghadapi permasalahan serius dalam penyediaan air bersih, terutama saat musim kemarau panjang. Pasokan air sering kali tidak mencukupi kebutuhan masyarakat karena terbatasnya sumber daya air yang tersedia.

Saat ini, kota yang dikenal dengan sebutan Kota Beriman ini hanya mengandalkan embung Aji Raden di Balikpapan Timur dan waduk Manggar di Karang Joang yang bergantung pada air hujan. Namun, pasokan air dari kedua sumber ini tidak cukup saat curah hujan rendah.

Ketua Komisi II DPRD Kota Balikpapan, Fauzi Adi Firmansyah, menyampaikan bahwa solusi yang paling realistis dan berkelanjutan untuk mengatasi krisis air bersih adalah memanfaatkan air dari Sungai Mahakam. Menurutnya, meskipun ada beberapa alternatif lain seperti desalinasi air laut dan pemanfaatan air dari Kariangau Terminal (KKT), keduanya dianggap kurang efektif dan terlalu mahal untuk diterapkan dalam skala besar.

“Kami sudah mempertimbangkan berbagai alternatif, termasuk penggunaan air dari Kariangau Terminal, namun kapasitasnya terbatas. Sungai Mahakam memiliki potensi yang sangat besar dan lebih realistis untuk memenuhi kebutuhan air di Balikpapan dengan estimasi investasi sekitar Rp800 miliar,” ujar Fauzi, Kamis (6/2/2025). 

Rencana pemanfaatan air dari Sungai Mahakam diharapkan menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi masalah pasokan air bersih yang sering terjadi di Balikpapan, terutama pada musim kemarau. Namun, Fauzi mengingatkan bahwa proyek ini memerlukan kajian mendalam, terutama terkait dengan dampak lingkungan, aspek teknis, dan kebutuhan pendanaan yang besar.

Pemerintah daerah diharapkan dapat menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk investor dan pemerintah pusat, untuk mewujudkan proyek ini. Fauzi juga menegaskan bahwa DPRD Kota Balikpapan sedang berkoordinasi dengan DPRD Provinsi Kalimantan Timur dan gubernur terpilih untuk merumuskan langkah strategis dalam merealisasikan proyek ini.

Salah satu langkah yang dipertimbangkan adalah pembangunan jalur pipanisasi yang menghubungkan Sungai Mahakam ke Balikpapan melalui jalur tol, yang diharapkan dapat membuat distribusi air lebih efisien.

Selain upaya pembangunan infrastruktur, Fauzi juga mengingatkan pentingnya edukasi kepada masyarakat mengenai pengelolaan air yang bijak. Dengan kombinasi solusi infrastruktur dan kesadaran masyarakat, diharapkan krisis air bersih di Balikpapan dapat teratasi secara berkelanjutan dan memberikan manfaat jangka panjang bagi kota tersebut. (Adv/DPRD/BPP) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *