GARVI.ID, BALIKPAPAN — Puskesmas Karang Jati mencatat penurunan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) sepanjang tahun 2025. Hingga November, jumlah kasus belum mencapai 20, jauh lebih rendah dibanding tahun sebelumnya yang menyentuh 28 kasus. Meski begitu, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat potensi penularan masih bisa terjadi, terutama memasuki musim hujan.
Kepala Puskesmas Karang Jati, dr. Niken Dayuh Anggraini MARS, menjelaskan bahwa pola peningkatan kasus sangat dipengaruhi kondisi cuaca. “Biasanya saat musim hujan, kasusnya naik. Tapi kalau cuaca kering, bisa saja tidak ada laporan sama sekali. Namun memang, hampir setiap bulan ada satu atau dua kasus yang harus kami tindak lanjuti,” ujarnya, Rabu (19/11/2025).
Begitu laporan kasus diterima, puskesmas langsung melakukan penyelidikan epidemiologi dengan memeriksa rumah-rumah di sekitar lokasi penderita. Minimal 20 rumah menjadi target pengecekan untuk memastikan tidak ada jentik nyamuk Aedes aegypti yang berkembang biak.
“Kami berharap angka bebas jentik bisa mencapai 95 persen. Tapi di lapangan, angka itu sering sulit dicapai,” kata dr. Niken. Ia menambahkan bahwa kebiasaan warga yang masih menampung air dan tidak menutupnya menjadi faktor penyebab jentik tetap ditemukan dari waktu ke waktu.
Untuk meminimalkan penyebaran, Puskesmas Karang Jati rutin melakukan survei jentik setiap tiga bulan serta melibatkan kader pemantau jentik untuk memeriksa rumah warga secara berkala. Pemberian abate juga dilakukan untuk membantu mencegah perkembangbiakan nyamuk.
“Kadang warga menguras penampungan air sehingga abate yang sudah ditabur ikut hilang. Ini membuat jentik bisa muncul kembali. Jadi pengendalian memang harus didukung perilaku warga sehari-hari,” jelasnya.
Meski menghadapi berbagai tantangan, Puskesmas Karang Jati bersyukur karena tren kasus tahun ini lebih terkendali. “Kasusnya turun, dan tidak ada laporan kondisi berat. Semoga hingga akhir tahun tidak ada penambahan,” ujar dr. Niken.
Hingga saat ini, wilayah Karang Jati juga dinyatakan bebas dari kasus malaria, sehingga fokus penanganan kesehatan lingkungan lebih diarahkan pada pencegahan DBD dan edukasi perilaku hidup bersih. (Adv/Puskesmas/Bpp)













