Koalisi GERAM TNI Kecam Dugaan Kekerasan Aparat saat Aksi Solidaritas Andrie Yunus di Balikpapan

GARVI.ID, BALIKPAPAN — Koalisi masyarakat sipil yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Lawan Tindakan Nir-Integritas (GERAM TNI) mengecam dugaan tindakan represif aparat TNI terhadap mahasiswa saat aksi solidaritas untuk aktivis KontraS, Andrie Yunus, Selasa (31/3/2026).

Aksi yang digelar Aliansi Balikpapan Bersuara di depan Markas Kodim 0905 Balikpapan itu diwarnai dugaan kekerasan fisik dan penghadangan terhadap massa. Koalisi menilai tindakan tersebut sebagai bentuk ancaman terhadap prinsip supremasi sipil.

Perwakilan Pokja 30 Kaltim, Buyung Marajo, menyebut peserta aksi mengalami perlakuan kasar dari oknum aparat.

“Ada tindakan kekerasan terhadap massa, mulai dari ditarik hingga ditendang. Ini kami nilai sebagai pelanggaran HAM,” kata Buyung.

Dinilai Lampaui Kewenangan

Koalisi yang terdiri dari BEM KM Universitas Mulawarman, LBH Samarinda, KontraS, dan WALHI Kaltim menilai keterlibatan TNI dalam pembubaran atau penghadangan aksi sipil tidak sesuai kewenangan.

Mereka merujuk pada Undang-Undang TNI dan UUD 1945 yang menegaskan fungsi militer sebagai alat pertahanan negara, bukan penegak hukum dalam konteks aksi demonstrasi.

Selain itu, koalisi juga membantah klaim bahwa lokasi aksi di kawasan Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) merupakan area militer. Menurut mereka, kawasan tersebut adalah ruang publik yang dapat diakses masyarakat.

Koalisi mendesak Komandan Kodim 0905 Balikpapan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka serta menindak anggota yang terlibat.

“Kami minta ada pertanggungjawaban jelas, termasuk proses hukum terhadap oknum yang diduga melakukan kekerasan,” tegas Buyung.

Mereka juga menyoroti kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus dan meminta penanganannya dilakukan di peradilan umum untuk menjamin transparansi.

TNI Klaim Situasi Terkendali

Sementara itu, Kepala Penerangan Kodam VI/Mulawarman Kolonel Inf Gatot Teguh Waluyo menyatakan situasi aksi berjalan kondusif. Ia tidak menjelaskan secara rinci terkait dugaan tindakan represif maupun kemungkinan sanksi terhadap anggota.

“Situasinya aman dan terkendali. Kami tetap mengedepankan pendekatan humanis kepada mahasiswa,” ujarnya.

Gatot menambahkan, penyampaian aspirasi berlangsung tertib dan meminta semua pihak tidak terburu-buru menyimpulkan situasi di lapangan.

“Kami mengajak semua pihak menjaga suasana tetap kondusif. Kodam akan terus berupaya menjembatani aspirasi masyarakat secara bijak,” tutupnya. (/ba) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *