Korlap Ungkap Teror Telepon Misterius Jelang Aksi Solidaritas Andrie Yunus di Balikpapan

GARVI.ID, BALIKPAPAN — Koordinator Lapangan Aliansi Balikpapan Bersuara, Jusliadin, mengungkap adanya gangguan berupa telepon misterius yang diterimanya menjelang aksi solidaritas untuk Andrie Yunus.

Gangguan itu, kata dia, terjadi sejak malam sebelum aksi digelar. Ponselnya terus dihubungi oleh nomor tak dikenal yang diduga mencoba mengajaknya bertemu.

“Saya ditelepon berulang kali sejak malam. Nomornya tidak saya kenal, sepertinya ingin mengajak bertemu,” ujar Jusliadin, Rabu (1/4/2026).

Ia mencurigai rangkaian panggilan tersebut berkaitan dengan upaya mengganggu jalannya aksi yang telah direncanakan aliansi.

“Saya menduga ada upaya untuk mengacaukan aksi kemarin,” tegasnya.

Jusliadin menjelaskan, pihaknya sebelumnya telah menyampaikan pemberitahuan resmi kepada Polresta Balikpapan. Proses administratif itu, menurutnya, tidak menemui penolakan.

Namun situasi berbeda terjadi di lapangan. Saat massa hendak bergerak ke kawasan Monpera, mereka dihadang oleh sejumlah anggota TNI dan tidak diperbolehkan melanjutkan aksi di lokasi tersebut.

Alasan yang disampaikan, kawasan Monpera dinilai masih berada dalam radius area militer.

Jusliadin mengaku memahami adanya aturan yang melarang kegiatan demonstrasi di kawasan militer. Meski begitu, ia menilai aksi yang mereka lakukan tetap sah karena bersifat damai.

“Kami paham ada aturan soal kawasan militer. Tapi aksi kami damai, tidak ada niat membuat kerusuhan,” katanya.

Ia menilai penolakan tersebut lebih disebabkan oleh perbedaan tafsir terhadap aturan di lapangan.

Akhirnya, massa hanya bisa menyampaikan aspirasi di depan Makodim 0905 Balikpapan, sekitar 450 meter dari titik aksi yang direncanakan semula.

Jusliadin menegaskan, aksi solidaritas itu dilandasi rasa kemanusiaan atas kasus penyiraman air keras yang menimpa Andrie Yunus.

“Peristiwa ini sangat menyayat. Tindakan penyiraman air keras adalah kejahatan yang tidak manusiawi,” ujarnya.

Ia memastikan, sejak awal aksi tersebut dirancang sebagai aksi damai untuk menyampaikan solidaritas dan duka.

“Kami hanya ingin menyampaikan empati. Tidak ada tujuan lain, apalagi membuat kericuhan,” tutupnya. (/ba) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *