GARVI.ID, BALIKPAPAN – Kebutuhan air bersih di Kota Balikpapan masih belum sebanding dengan kapasitas produksi yang tersedia. Saat ini, pasokan air berada di kisaran 1.500 liter per detik, sementara kebutuhan masyarakat mencapai sekitar 2.500 liter per detik.
Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah pusat dalam upaya memperkuat ketersediaan air bersih di Balikpapan. Salah satu langkah yang didorong ialah menambah sumber air baku melalui pengembangan sumur dalam dan sumber air lainnya.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menyampaikan hal tersebut setelah meninjau Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) Sumur Dalam di Jalan Mulawarman, Kelurahan Teritip, Balikpapan Timur, Kamis (8/10/2026) sore.
AHY menyebut pengembangan sumber air baru perlu dilakukan secara bertahap untuk mengejar kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan air Balikpapan menghadapi musim kemarau.
“Balikpapan masih sangat membutuhkan suplai air. Hari ini tersedia 1.500 liter per detik, sementara kebutuhannya kurang lebih 2.500 liter per detik,” kata AHY.
Salah satu upaya yang telah berjalan berada di Teritip. Instalasi sumur dalam di kawasan tersebut saat ini memberikan tambahan produksi sekitar 10 liter per detik untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat.
Menurut AHY, penambahan kapasitas tidak harus langsung dalam jumlah besar. Pemerintah dapat meningkatkan pasokan secara bertahap sesuai kemampuan sumber air dan pembangunan infrastrukturnya.
“Walaupun tidak bisa langsung besar suplai yang bisa kita tambahkan, tetapi selalu ada progres, selalu ada kemajuan. Sepuluh liter per detik, kita tambah lagi 10 liter dan seterusnya,” ujarnya.
AHY menilai peningkatan kapasitas menjadi semakin penting untuk menghadapi potensi kemarau panjang dan ancaman El Nino.
“Tidak boleh ada masyarakat yang kesulitan mendapatkan air bersih, terutama di masa kemarau dan El Nino berkepanjangan,” tegasnya.
Untuk kebutuhan jangka panjang, pemerintah juga mempertimbangkan sumber air dengan kapasitas yang lebih besar. Salah satu opsi yang disebut AHY ialah pemanfaatan aliran dari Sepaku Semoi yang saat ini menjadi bagian dari sistem penyediaan air untuk kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Namun, rencana tersebut membutuhkan kajian lebih lanjut karena jarak sumber air dengan Balikpapan cukup jauh. Selain aspek teknis, kebutuhan anggaran pembangunan jaringan dan infrastruktur pendukung juga menjadi pertimbangan.
“Yang paling signifikan kalau kita bisa mendapatkan aliran dari Sepaku Semoi. Jaraknya cukup jauh, sehingga kita perlu menghitung ulang karena memang membutuhkan anggaran yang besar,” kata AHY.
Pemerintah pusat, lanjut AHY, akan berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum melalui balai teknis di Kalimantan Timur serta Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB) untuk mengawal penambahan pasokan air.
Sementara itu, Direktur Utama PTMB Yudhi Saharuddin mengatakan sumur dalam di Teritip saat ini memiliki produksi sekitar 10 liter per detik. Pasokan tersebut telah digunakan untuk melayani 1.089 rumah di wilayah Balikpapan Timur.
Yudhi menyebut kapasitas produksi di lokasi itu masih dapat dikembangkan. PTMB memiliki dua sumur yang berpotensi meningkatkan produksi hingga 30 liter per detik.
“Kapasitas produksi hanya 10 liter per detik di sini. Saat ini kami melayani 1.089 rumah. Kami punya dua sumur dan seharusnya ini bisa ditingkatkan hingga 30 liter per detik,” ujar Yudhi.
Jika peningkatan kapasitas tersebut terealisasi, PTMB memperkirakan tambahan pasokan dapat memperluas cakupan layanan hingga sekitar 2.000 rumah. (/*)













