Peran Apoteker di Puskesmas Karang Jati: Menjaga Mutu Obat dan Edukasi Pasien

GARVI.ID, BALIKPAPAN — Dalam alur pelayanan kesehatan, apoteker sering kali terlihat sebagai petugas yang menyerahkan obat di akhir kunjungan. Namun di balik meja pelayanan, tanggung jawab mereka jauh lebih besar. Begitu pula di Puskesmas Karang Jati, di mana apotekernya menjalankan peran penting mulai dari manajemen obat hingga edukasi pasien demi memastikan penggunaan obat yang aman dan tepat.

Apoteker Puskesmas Karang Jati, apt. Catherina Mulyanto, S.Farm, menjelaskan bahwa pelayanan kefarmasian di puskesmas mencakup dua bagian utama. “Sebagai apoteker, kita punya dua jenis pelayanan: manajemen obat dari perencanaan sampai distribusi, dan pelayanan informasi klinis seperti pengkajian resep hingga konseling,” ujarnya saat ditemui, Senin (24/11/2025).

Menurutnya, layanan ini merupakan rantai penting untuk memastikan mutu obat tetap terjaga sebelum diterima pasien. Setelah dokter menuliskan resep, apoteker akan menilai kesesuaian dosis, potensi interaksi, hingga kondisi pasien sebelum obat diserahkan. “Tujuannya agar obat yang diperoleh pasien itu bermutu, aman, dan digunakan dengan tepat,” tambahnya.

Dalam hal pengadaan obat, puskesmas bergantung pada pasokan dari Instalasi Farmasi Kota (IFK). Meski begitu, jika terjadi kekosongan, puskesmas diperbolehkan melakukan pengadaan mandiri menggunakan dana BLUD. “Kalau ada obat yang tidak tersedia, itu jadi bahan evaluasi untuk perencanaan tahun berikutnya. Tapi selama ini kita upayakan stok tetap terpenuhi,” jelas Catherina.

Obat yang paling sering diresepkan pun ternyata dipengaruhi situasi lingkungan. Penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes tetap mendominasi. Namun beberapa bulan terakhir, tren berubah karena cuaca tidak menentu. “Akhir-akhir ini obat ISPA paling sering keluar. Hampir 80 persen pasien datang dengan keluhan ISPA, tapi mayoritas masih ISPA yang tidak membutuhkan antibiotik,” katanya.

Meski bekerja di “ujung” layanan kesehatan, peran apoteker tidak berhenti pada pemberian obat. Mereka memastikan pasien pulang dengan pemahaman yang benar tentang cara minum obat, penyimpanan, hingga efek samping yang harus diwaspadai.

“Pada akhirnya semua yang kita lakukan bermuara pada satu tujuan: memastikan obat digunakan dengan tepat demi kebaikan masyarakat,” tutup Catherina. (Adv/Puskesmas/Bpp) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *