GARVI.ID, BALIKPAPAN – Dalam upaya menekan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD), Puskesmas Karang Jati terus mendorong penerapan program 3M Plus di lingkungan masyarakat. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk kolaborasi antara tenaga kesehatan dan warga untuk menjaga lingkungan tetap bersih sekaligus mencegah berkembangnya jentik nyamuk Aedes aegypti.
Penanggungjawab Program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) Puskesmas Karang Jati, Denny Aditiyawarman menjelaskan bahwa program 3M mencakup kegiatan menutup tempat penampungan air, menguras bak mandi secara berkala, serta menyingkirkan barang-barang bekas yang berpotensi menjadi tempat genangan air.
“Kita harus rajin menguras dan menyikat bak mandi minimal seminggu sekali agar jentik tidak berkembang,” ujarnya, Sabtu (22/11/2025).
Denny mengatakan, kebiasaan menumpuk barang bekas di sudut rumah sering kali menjadi sumber munculnya jentik nyamuk tanpa disadari. Botol plastik, kaleng, dan ember rusak kerap menampung air hujan, terutama saat cuaca tidak menentu.
“Kalau barang itu sudah tidak terpakai, lebih baik dibuang ke TPS atau diolah kembali,” tambahnya.
Sejumlah warga di beberapa RT juga mulai menerapkan program Clean Green Heart (CGH) dengan memanfaatkan sampah menjadi produk bernilai guna, seperti kerajinan dari botol plastik atau pengolahan sampah organik menjadi kompos. Upaya ini dinilai membantu mengurangi volume sampah sekaligus menekan potensi terbentuknya sarang nyamuk.
Selain penerapan 3M, program Plus juga terus diperkuat, di antaranya melalui penaburan larvasida pada penampungan air yang jarang digunakan.
“Larvasida hanya dipakai untuk tampungan air yang jarang dipakai. Kalau yang sering digunakan lebih baik rutin dikuras dan disikat,” terang Denny.
Beberapa warga juga mulai menggunakan kelambu air untuk menutup drum penampungan agar tetap bersih dan tidak menjadi tempat bertelur nyamuk. Meski belum merata, metode ini dinilai cukup efektif di beberapa titik pemukiman.
Denny menegaskan bahwa keberhasilan pencegahan DBD sangat bergantung pada partisipasi masyarakat.
“Semua kembali ke kebiasaan kita. Kalau menjaga kebersihan dilakukan bersama dan terus-menerus, jentik bisa ditekan, dan risiko DBD ikut menurun,” ujarnya.
Dengan langkah edukasi yang berkelanjutan serta dukungan aktif warga, Puskesmas Karang Jati berharap wilayah Kelurahan Karang Jati dapat menjadi contoh lingkungan sehat dan bebas jentik melalui kerja sama yang konsisten. (Adv/Puskesmas/Bpp)







