GARVI.ID, BALIKPAPAN – Upaya peningkatan kesehatan anak di wilayah Karang Jati terus dilakukan secara terpadu. Pada November ini, Puskesmas mencatat terdapat 67 balita yang masuk kategori stunting atau sekitar 14,5 persen dari total populasi. Seluruh balita tersebut kini sudah berada dalam pemantauan berkelanjutan melalui program gizi dan pendampingan keluarga.
Kepala UPTD Puskesmas Karang Jati, dr. Niken Dayuh Anggraini MARS, menjelaskan bahwa pihaknya menjalankan program gizi dari hulu ke hilir, mulai dari remaja putri, ibu hamil, hingga balita. Untuk remaja putri, Puskesmas menyalurkan tablet tambah darah melalui sekolah. Sementara itu, ibu hamil mendapat paket makanan tambahan serta pendampingan untuk memastikan kebutuhan nutrisi terpenuhi.
“Upaya gizi kami jalankan secara bertahap dan terukur. Tujuannya agar pencegahan stunting bisa dilakukan sejak masa remaja hingga kehamilan,” ujarnya, Senin (17/11/2025).
Pada kelompok balita, Puskesmas memberikan makanan tambahan secara rutin. Makanan yang diberikan difokuskan pada sumber protein dan vitamin, seperti telur, ikan, tempe, tahu, dan sayuran. Menurut dr. Niken, protein merupakan komponen penting yang harus dikonsumsi setiap hari karena sangat berperan dalam proses tumbuh kembang anak.
“Kami ingin memastikan anak-anak mendapat asupan gizi yang sesuai kebutuhan usia mereka,” tambahnya.
Kader Posyandu juga dilibatkan dalam pendataan, pemantauan, serta edukasi rutin kepada orang tua. Mereka memberikan arahan mengenai penyajian makanan sehat, variasi menu harian, serta pentingnya membawa anak ke Posyandu setiap bulan untuk penimbangan dan pemeriksaan perkembangan tubuh.
“Edukasi ini harapannya membantu orang tua memahami pola makan sehat, karena sebagian besar pola makan dipengaruhi kebiasaan di rumah,” jelas dr. Niken.
Ia menyebutkan bahwa peningkatan angka stunting pada beberapa tahun terakhir juga dapat dipengaruhi ketelitian pencatatan serta kualitas pendataan di tingkat kader. Hal ini justru dianggap sebagai kemajuan karena data yang akurat membantu penanganan menjadi lebih tepat sasaran.
“Walaupun angkanya terlihat naik, itu juga bisa karena pencatatan semakin baik. Kami syukuri karena kasusnya bisa terdeteksi,” katanya.
Puskesmas Karang Jati berharap upaya ini dapat terus memperbaiki kondisi gizi anak di wilayah tersebut. Dengan kerja sama tenaga kesehatan, kader, dan keluarga, pihaknya optimistis angka stunting dapat menurun secara bertahap. (Adv/Puskesmas/Bpp)
