GARVI.ID, BALIKPAPAN – Puskesmas Karang Rejo terus memperkuat penanggulangan Tuberkulosis (TBC) dengan memperluas kegiatan screening baik di fasilitas pelayanan kesehatan maupun langsung di wilayah-wilayah yang dinilai memiliki potensi penularan lebih tinggi. Langkah ini dilakukan untuk memastikan temuan kasus dapat dilakukan sedini mungkin, sebelum penyakit berkembang atau menular lebih luas.
Perawat Penanggung Jawab Program TBC Puskesmas Karang Rejo, Anggraini Emiliawati, menjelaskan bahwa proses screening menjadi pintu masuk utama dalam penanganan TBC. “Setiap warga yang datang berobat dan memiliki keluhan batuk, keringat malam, atau penurunan berat badan, langsung kami arahkan untuk pemeriksaan dahak,” ujarnya, Selasa (18/11/2025).
Puskesmas menyediakan dua wadah dahak dengan selang waktu satu jam per pengambilan. Sampel tersebut kemudian dikirim ke laboratorium yang memiliki alat Tes Cepat Molekuler (TCM), seperti Puskesmas Gunung Samarinda, Puskesmas Marga Sari, atau RSUD Beriman. Meski belum memiliki TCM sendiri, Anggraini menegaskan bahwa sistem pelaporan laboratorium memastikan hasil pemeriksaan dapat diterima secara cepat dan akurat.
Tak hanya menunggu pasien datang ke puskesmas, tim juga aktif melakukan screening luar gedung. Kegiatan ini menyasar wilayah-wilayah dengan jumlah kasus tinggi atau yang dikenal sebagai “daerah kunci”. Pemeriksaan dilakukan melalui program ILP, dengan membawa peralatan khusus untuk menjaga keamanan sampel sebelum dikirim ke laboratorium.
“Turun langsung ke lapangan sangat penting. Tidak semua orang dengan gejala TBC mau atau sempat datang berobat. Dengan turun ke daerah kunci, peluang menemukan kasus baru jadi lebih besar,” kata Anggraini.
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan pasien positif TBC, puskesmas segera menghubungi yang bersangkutan untuk memulai pengobatan dan pemeriksaan lanjutan. Pendekatan cepat ini ikut menekan risiko penularan kepada anggota keluarga maupun masyarakat sekitar.
Melalui penguatan kerja lapangan dan screening berbasis wilayah, Puskesmas Karang Rejo berharap dapat membantu meningkatkan cakupan penemuan kasus, selaras dengan target nasional eliminasi TBC 2030. “Kuncinya adalah temuan dini. Semakin cepat ditemukan, semakin besar peluang kita memutus rantai penularan,” tegasnya. (Adv/Puskesmas/Bpp)











