GARVI.ID, BALIKPAPAN- UPTD Puskesmas Sumber Rejo terus memperkuat program Tanaman Obat Keluarga (TOGA) sebagai bagian dari pemberdayaan masyarakat dalam pengobatan mandiri. Tenaga Teknis Kefarmasian, Grace Eunice Kambey, menjelaskan bahwa program yang telah berjalan sejak lama ini tidak lagi hanya mendorong masyarakat untuk menanam tanaman obat, tetapi juga memastikan pemanfaatannya dilakukan secara benar, aman, dan rasional.
Menurut Grace, fokus pembinaan kini diarahkan pada edukasi praktis di lapangan. “Kami melakukan penyuluhan di posyandu, PKK, hingga sekolah, termasuk pelatihan cara menanam, memanen, dan mengolah tanaman obat. Masyarakat perlu tahu bukan hanya apa yang mereka tanam, tetapi bagaimana memanfaatkannya dengan tepat,” ujarnya, Jumat (21/11/2025).
Beberapa jenis tanaman yang banyak dikembangkan masyarakat antara lain jahe, kunyit, kencur, temulawak, sirih, sereh, pegagan, dan lidah buaya. Tanaman ini dipilih berdasarkan efektivitasnya dalam menangani keluhan ringan seperti batuk, demam, diare, atau luka bakar.
Edukasi juga mencakup cara mengolah simplisia, membuat jamu sederhana, hingga mengenali tanda-tanda kerusakan bahan herbal yang tidak aman digunakan. Puskesmas juga mengajarkan kapan masyarakat boleh melakukan pengobatan mandiri, dan kapan mereka harus segera berobat.
Penerapan TOGA tidak hanya di rumah-rumah warga, tetapi juga menjadi proyek percontohan di posyandu, sekolah melalui UKS, kelompok PKK, serta pekarangan Puskesmas sendiri. Melalui pendampingan kader dan monitoring rutin, Puskesmas memastikan program ini berjalan berkelanjutan.
“TOGA ini bukan hanya soal tanaman, tetapi soal kemandirian keluarga. Dengan memanfaatkan pekarangan, masyarakat bisa mengurangi biaya berobat untuk keluhan ringan. Yang terpenting, mereka belajar hidup sehat lebih dekat dengan alam,” tegas Grace. (Adv/Puskesmas/Bpp)
