GARVI.ID, BALIKPAPAN — Di balik meja layanan Puskesmas Karang Rejo, ada cerita yang tidak sekadar tentang obat dan pemeriksaan laboratorium. Ada pergulatan batin, penyangkalan, ketakutan, sekaligus harapan baru bagi para pasien yang pertama kali mengetahui bahwa dirinya positif HIV. Setiap hari, tim kecil di puskesmas ini berusaha memastikan bahwa setiap pasien tidak berjalan sendirian.
Penanggung Jawab Program HIV/AIDS, dr Endang Dwi Esti J, menyampaikan bahwa sebagian pasien datang dengan keluhan yang tampak biasa—sariawan tak kunjung sembuh, bercak merah di kulit, atau penyakit yang berulang. Namun ada momen ketika hasil pemeriksaan membuka kenyataan lain. “Pasien baru biasanya mengalami denial. Mereka tak percaya dengan hasilnya. Ada yang butuh beberapa hari untuk menerima kondisi itu,” tuturnya, Senin (24/11/2025).
Karena itu, proses pertama yang dilakukan bukanlah pengobatan, melainkan konseling. Pendekatan ini penting agar pasien memahami kondisinya dan tidak merasa terasing. Konseling dilakukan oleh petugas yang sudah terlatih, termasuk memberi ruang bagi pasien untuk mencerna informasi sebelum memulai terapi.
Setelah itu barulah rangkaian pemeriksaan lanjutan dilakukan, termasuk tes sifilis dan skrining TBC. Risiko infeksi tuberculosis sangat tinggi pada pasien HIV, sehingga pencegahan harus segera dilakukan. “TBC adalah yang paling sering membuat pasien HIV meninggal. Karena itu, semua pasien kami screening dan kalau negatif, langsung kami beri pencegahan selama enam bulan,” jelas Endang.
Tidak semua perjalanan pasien berjalan mulus. Ada yang menolak pengobatan, menghilang, atau merasa takut dicap oleh lingkungan. Di sinilah peran komunitas pendamping menjadi krusial. Relawan dari jaringan pendukung HIV akan membantu mendekati pasien dengan cara yang lebih personal. “Biasanya mereka lebih mau terbuka kepada orang-orang yang punya pengalaman sama. Dari situ mereka mulai mau kembali berobat,” kata Endang.
Kini, pengobatan HIV dapat dilakukan langsung di puskesmas. Seluruh obat disediakan pemerintah tanpa biaya. Setiap enam bulan, pasien wajib melakukan pemeriksaan viral load untuk mengetahui tingkat penularan.
Namun di antara semua proses medis itu, terselip pesan bahwa HIV bukan akhir dari harapan. “Selama obat diminum teratur dan viral load terkontrol, mereka tetap bisa hidup normal, bahkan bisa menikah dan punya anak yang lahir negatif,” ujar Endang.
Di ruang kecil puskesmas ini, harapan itu terus dijaga—pelan, tenang, dan penuh empati. (Adv/Puskesmas/Bpp)










