GARVI.ID, BALIKPAPAN- Meskipun program TOGA telah berjalan cukup lama, UPTD Puskesmas Sumber Rejo masih menghadapi sejumlah tantangan dalam pelaksanaannya. Grace Eunice Kambey, Tenaga Teknis Kefarmasian, menjelaskan bahwa tantangan terbesar adalah konsistensi masyarakat dalam memanfaatkan tanaman obat.
“Banyak yang semangat di awal untuk menanam, tetapi tidak semua rutin mengolah atau menggunakan tanaman tersebut saat diperlukan. Kadang mereka hanya membiarkan tanaman tumbuh tanpa dimanfaatkan,” ujarnya, Senin (17/11/2025).
Kendala lainnya adalah beredarnya informasi yang tidak valid mengenai cara pengolahan tanaman obat. Masyarakat kerap mengikuti mitos atau metode yang tidak sesuai standar keamanan. Untuk itu, Puskesmas memberikan panduan berupa buku saku, penyuluhan, serta pelatihan teknis agar masyarakat memahami takaran dan dosis yang benar.
Lahan sempit juga menjadi hambatan di beberapa wilayah padat penduduk. Namun Puskesmas mendorong solusi sederhana seperti penggunaan pot, polybag, atau rak vertikal sehingga TOGA tetap bisa dikembangkan.
Pemilihan jenis tanaman obat juga menjadi perhatian. Puskesmas menetapkan standar 10–15 tanaman obat prioritas berdasarkan Formularium Obat Tradisional Indonesia. Ini memastikan masyarakat hanya menanam tanaman yang teruji aman dan bermanfaat.
Monitoring berkala dilakukan melalui kader dan kunjungan petugas. Pencatatan sederhana juga mulai diterapkan untuk mengetahui kelompok mana saja yang aktif memanfaatkan TOGA.
Grace menegaskan bahwa tantangan bukan alasan untuk berhenti. “Kami terus memperkuat dukungan sosial melalui PKK, kelurahan, kecamatan, hingga dinas terkait. Dengan kolaborasi, program TOGA bisa berkembang lebih baik,” katanya. Puskesmas menargetkan peningkatan pemanfaatan TOGA secara konsisten, rasional, dan berkelanjutan. (Adv/Puskesmas/Bpp)
