GARVI.ID, BALIKPAPAN – Pergerakan harga di Kota Balikpapan dan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) pada April 2026 menunjukkan tren melandai. Bahkan, Balikpapan tercatat mengalami deflasi, sementara inflasi di PPU juga menurun dibanding bulan sebelumnya.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan menilai kondisi ini dipengaruhi oleh normalisasi permintaan masyarakat pasca Idulfitri, serta terjaganya pasokan dan stok bahan pangan. Sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di kedua wilayah juga dinilai berperan dalam menjaga stabilitas harga.
“Ke depan, inflasi di Balikpapan dan PPU diperkirakan tetap terkendali dalam kisaran target nasional 2,5 persen ± 1 persen,” demikian disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, dalam keterangan resminya, Selasa (5/5/2026).
Pada April 2026, Balikpapan mengalami deflasi sebesar 0,05 persen (month to month/mtm). Kondisi ini didorong oleh pasokan pangan yang memadai di tengah permintaan yang kembali normal setelah periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
Sementara itu, PPU mencatat inflasi sebesar 0,33 persen (mtm). Meski masih mengalami kenaikan harga, angkanya lebih rendah dibanding bulan sebelumnya yang mencapai 1,09 persen. Inflasi di PPU terutama dipicu terbatasnya pasokan sejumlah bumbu dapur dan minyak goreng kemasan.
Secara tahunan, inflasi Balikpapan tercatat 2,19 persen (year on year/yoy), sedangkan PPU sebesar 2,10 persen. Angka ini masih lebih rendah dibanding inflasi nasional 2,42 persen maupun gabungan empat kota di Kalimantan Timur sebesar 2,50 persen.
Di Balikpapan, deflasi terutama disumbang kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil minus 0,10 persen. Penurunan harga paling terasa pada komoditas daging ayam ras, ikan layang, cabai rawit, emas perhiasan, dan bahan bakar rumah tangga.
Turunnya harga ayam dipicu peningkatan pasokan dari Jawa dan daerah sekitar. Sementara hasil tangkapan nelayan yang membaik menekan harga ikan. Di sisi lain, masuknya masa panen di sentra produksi turut menurunkan harga cabai rawit.
Penurunan harga juga terjadi pada emas perhiasan seiring tren global, serta bahan bakar rumah tangga yang kembali normal setelah Ramadan dan Idulfitri.
Di sisi lain, kelompok transportasi justru menjadi penyumbang inflasi terbesar di Balikpapan dengan andil 0,13 persen. Kenaikan ini dipicu penyesuaian tarif penerbangan akibat naiknya harga avtur.
Sejumlah komoditas lain seperti semangka, tomat, dan kangkung juga mengalami kenaikan harga akibat tingginya curah hujan yang mengganggu produksi. Selain itu, keterlambatan pasokan dari Jawa turut mendorong kenaikan harga minyak goreng kemasan.
Kenaikan juga terjadi pada biaya jasa perawatan kendaraan, seiring penyesuaian tarif layanan dan harga suku cadang.
Di PPU, inflasi terutama disumbang kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 0,13 persen. Komoditas utama pemicu inflasi antara lain tomat, semangka, bawang merah, minyak goreng, dan bakso siap santap.
Curah hujan tinggi di wilayah PPU dan daerah pemasok menyebabkan produksi sejumlah komoditas hortikultura menurun, sehingga harga naik. Sementara itu, kenaikan harga daging sapi menjelang Iduladha turut mendorong harga bakso.
Adapun kenaikan harga minyak goreng dipicu terbatasnya pasokan, termasuk akibat keterlambatan distribusi dari produsen di Jawa.
Meski demikian, sejumlah komoditas di PPU juga mengalami penurunan harga, seperti daging ayam ras, cabai rawit, ikan tongkol, terong, dan kacang panjang. Kondisi ini didukung oleh meningkatnya pasokan seiring masa panen dan membaiknya hasil tangkapan nelayan.
Bank Indonesia mengingatkan, ke depan masih terdapat sejumlah risiko yang dapat mendorong inflasi. Salah satunya adalah musim kemarau yang diperkirakan mulai Juli 2026 di Paser dan berlanjut ke PPU serta Balikpapan pada Agustus.
Selain itu, musim kemarau di Pulau Jawa sebagai daerah pemasok utama juga berpotensi mengganggu distribusi pangan ke Kalimantan Timur. Peningkatan permintaan akibat ekspansi program pemerintah di berbagai daerah juga menjadi tantangan tersendiri.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, BI bersama pemerintah daerah melalui TPID terus memperkuat langkah pengendalian inflasi. Upaya yang dilakukan antara lain koordinasi rutin pemantauan harga, distribusi pangan melalui Bulog, hingga kerja sama antar daerah untuk menjaga pasokan.
Selain itu, program ketahanan pangan juga digencarkan melalui gerakan tanam cabai, padi, dan jagung, operasi pasar, serta distribusi bibit tanaman di Balikpapan.
“Sinergi akan terus diperkuat melalui implementasi program pengendalian inflasi secara konsisten dan berkelanjutan,” tulis BI Balikpapan.











