GARVI.ID. BALIKPAPAN— Upaya mengembangkan pemanfaatan tanaman obat keluarga (TOGA) di lingkungan masyarakat kini tidak lagi dilakukan dengan cara tradisional. Puskesmas Karang Jati menghadirkan inovasi berbasis teknologi, yaitu Barkot TOGA, bagian dari program Asuhan Mandiri Tanaman Obat Keluarga dan Akupresur (Asmantoga) yang selama ini berjalan di wilayah tersebut. Inovasi ini sempat meraih penghargaan di tingkat kota hingga provinsi.
Rahmatia Amd. Farm, penanggung jawab program pengobatan tradisional sekaligus pengelola Asmantoga, menjelaskan bahwa gagasan Barkot TOGA berangkat dari kebutuhan masyarakat akan informasi tanaman obat yang lebih mudah diakses. “Jadi setiap tanaman obat itu diberi barkot. Kalau discan, langsung keluar informasinya. Mulai dari manfaat, cara olah, sampai cara pakainya,” jelasnya saat ditemui pada Senin (24/11/2025).
Menurut Rahmatia, inovasi ini mulanya dipasang lengkap pada tanaman-tanaman TOGA yang menjadi percontohan di puskesmas. Namun seiring waktu, beberapa barkot mengalami kerusakan, terutama di area luar gedung. Meski begitu, konsepnya tetap berjalan dan masih bisa digunakan sebagai media edukasi. “Dulu barkotnya lengkap, sekarang beberapa sudah rusak. Tapi sistemnya masih ada dan tetap bisa dipakai,” ujarnya.
Program Asmantoga sendiri bertujuan mengajarkan masyarakat memanfaatkan tanaman obat untuk keluhan ringan, mulai dari batuk, pilek, nyeri, hingga kebutuhan perawatan kesehatan sederhana. Puskesmas pernah membina salah satu RT, yakni RT 11, sebagai lokasi pembelajaran. “Kita dulu ngajarin warganya langsung, dari cara tanam sampai cara mengolah tanaman obat. Itu satu paket dengan akupresur juga,” kata Rahmatia.
Keunggulan Barkot TOGA dianggap mampu menjembatani kebutuhan informasi dengan cara yang lebih modern dan praktis. Masyarakat tidak perlu membawa buku panduan atau menunggu penyuluhan. Cukup memindai barkot, semua informasi tersedia di layar ponsel. “Sekali scan, keluar informasinya. Itu yang bikin program ini dinilai inovatif sampai dapat penghargaan dari wali kota dan gubernur,” tambahnya.
Meski saat ini program tidak sesering dulu karena keterbatasan agenda, Rahmatia memastikan bahwa Asmantoga tetap berjalan dengan cara menyatu ke beberapa kegiatan kesehatan lain. Ia berharap ke depan inovasi Barkot TOGA dapat kembali diaktifkan secara penuh. “Masih berjalan, cuma jarang turun karena tidak ada program khusus. Biasanya kita nebeng kegiatan lain. Tapi manfaatnya tetap ada untuk masyarakat,” tutupnya. (Adv/Puskesmas/Bpp)













