GARVI.ID, BALIKPAPAN – Program pembinaan kesehatan ibu dan anak terus digiatkan di Kelurahan Sumber Rejo, Kecamatan Balikpapan Tengah. Melalui kegiatan kelas ibu balita dan posyandu balita, warga diberi edukasi tentang cara mendukung tumbuh kembang anak yang sehat dan optimal. Kegiatan terbaru berlangsung di RT 014 Jalan Pangeran Antasari No. 35, Rabu (12/11/2025).
Bidan Mahir Nilwana menjelaskan, kelas ibu balita diadakan dua kali dalam sebulan, sementara posyandu balita dilaksanakan rutin setiap bulan secara bergiliran di 59 RT wilayah Sumber Rejo.
“Untuk bulan November ini seluruh kegiatan sudah selesai. Nanti akan dimulai kembali tahun 2026, dengan rencana sekitar dua puluh kali kegiatan secara bergantian di setiap RT,” jelas Nilwana.
Dalam kelas ibu balita, peserta yang mayoritas adalah para ibu mendapatkan materi seputar pola asuh anak, pemantauan tumbuh kembang, pemberian ASI eksklusif, imunisasi, dan pencegahan penyakit balita. Selain itu, kegiatan juga menjadi ajang berbagi pengalaman antarorang tua.
“Melalui kelas ini, kami ingin para orang tua lebih memahami cara memberikan perawatan yang tepat. Tidak hanya soal gizi, tapi juga stimulasi, kasih sayang, dan perhatian sejak dini,” katanya.
Antusiasme peserta terbilang tinggi. Banyak ibu aktif bertanya, terutama soal anak yang sulit makan dan pemberian MPASI bergizi seimbang.
“Yang penting bukan banyaknya porsi, tapi kandungan gizinya. MPASI harus lengkap—ada karbohidrat, protein hewani, sayur, dan buah. Anak juga lebih semangat makan kalau diajak bersama keluarga,” ujarnya.
Dalam sesi tentang ASI eksklusif, Nilwana menekankan pentingnya pemberian ASI tanpa tambahan makanan atau minuman lain sejak bayi lahir hingga usia enam bulan. Ia menjelaskan, produksi ASI sangat dipengaruhi oleh hormon, psikologis ibu, serta pola makan dan istirahat.
“Yang paling penting adalah keyakinan diri. Banyak ibu merasa ASI-nya kurang, padahal sebenarnya cukup. Ibu harus percaya diri bahwa ASI-nya mampu memenuhi kebutuhan bayi,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar ibu tidak membuang kolostrum, ASI pertama berwarna kekuningan yang keluar dalam dua hingga empat hari setelah melahirkan.
“Kolostrum sangat berharga karena mengandung zat kekebalan tubuh yang tak bisa digantikan susu formula,” tambahnya.
Selain itu, kegiatan turut membahas pentingnya imunisasi dasar bagi bayi dan balita. Imunisasi pertama diberikan sejak bayi lahir, yakni vaksin HB-0 untuk mencegah hepatitis B dan kanker hati, kemudian dilanjutkan dengan vaksin BCG, Polio, DPT-HB-Hib, PCV, RV, hingga Campak Rubella.
“Imunisasi tidak berhenti di usia balita saja. Saat anak sekolah, ada imunisasi lanjutan melalui program UKS. Karena itu, peran orang tua penting untuk memastikan anak mengikuti semua tahap,” jelas Nilwana.
Sementara kegiatan posyandu balita berfokus pada pemantauan rutin tumbuh kembang anak melalui penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, dan lingkar kepala.
“Dari hasil posyandu, kami bisa melihat apakah anak tumbuh sesuai usianya. Jika berat badan tidak naik atau perkembangan terlambat, langsung kami pantau dan beri arahan kepada orang tuanya,” tutup Bidan Nilwana. (Adv/Puskesmas/Bpp)








