GARVI.ID, BALIKPAPAN — Posyandu Lestari 27 di RT 71 Kelurahan Karang Rejo, Balikpapan Tengah, kembali menggelar kegiatan pelayanan terpadu (ILP) pada Sabtu (15/11/2025). Kegiatan ini melayani pemeriksaan kesehatan lengkap mulai dari ibu hamil, bayi-batita, remaja, usia produktif, hingga lansia.
Penanggung jawab Posyandu dari Puskesmas Karang Rejo, Agnes Ferusgel Ginting, menjelaskan bahwa sejak 2024 seluruh layanan posyandu telah digabung agar masyarakat bisa mendapatkan pemeriksaan lebih menyeluruh dalam satu kunjungan.
“Kalau dulu posyandu hanya untuk bayi dan balita, sekarang sudah digabung. Semua bisa datang—ibu hamil, remaja, usia produktif hingga lansia,” ujarnya.
Dalam pelaksanaan hari itu, sebanyak 23 warga mengikuti pemeriksaan kesehatan. Untuk kelompok usia produktif, posyandu menyediakan layanan cek gula darah secara gratis. Sementara untuk lansia, pemeriksaan mencakup tensi, gula darah, kolesterol, dan asam urat. Bayi dan balita tetap mendapatkan penimbangan, pengukuran lingkar lengan, tinggi badan, serta imunisasi sesuai jadwal sebagai bagian dari pemantauan pencegahan stunting.
“Pemeriksaan ini sekaligus memantau tumbuh kembang anak dan mencegah stunting. Ibu hamil juga kami cek lingkar lengan, tekanan darah, hingga gula darahnya,” tambah Agnes.
Posyandu Lestari 27 merupakan posyandu ke-27 dari total 27 posyandu yang saat ini beroperasi di Karang Rejo setelah program merger RT diterapkan. RT 70, 71, 72 dan 88 kini bergabung dalam satu layanan posyandu.
Pengalaman Kader: Merayu Balita, Hadapi Keluhan PMT, hingga Mengatur Data
Kader Posyandu RT 71 sekaligus Ketua RT 71, Riyani, mengisahkan pengalaman sejak menjadi kader pada 2019. Ia mengaku sempat kesulitan mendekati anak-anak yang ketakutan saat ditimbang atau diperiksa.

“Dulu balita lewat depan rumah saya saja takut. Dari situ saya belajar pendekatan supaya mereka mau diperiksa,” kata Riyani.
Menurutnya, pelatihan dan penyegaran rutin bagi kader sangat membantu dalam penimbangan, pencatatan, hingga penyuluhan. Namun ia mengakui bahwa perhitungan usia balita kerap menjadi tantangan ketika pencatatan masih manual.
Selain itu, program pemberian makanan tambahan (PMT) juga menjadi sumber keluhan sebagian warga, terutama bagi orang tua yang harus menunggu penimbangan setiap bulan agar tetap menerima bantuan.
“Ada warga yang tidak bisa pulang ke kampung karena harus menunggu jadwal PMT. Timbangan anaknya tidak naik-naik, jadi mereka terus menunggu,” jelasnya.
Meski demikian, Riyani menekankan bahwa pendekatan personal kepada warga dan balita tetap menjadi kunci keberhasilan posyandu. Ia juga mengingatkan bahwa banyak layanan yang sebenarnya dapat diperoleh gratis di posyandu—mulai vitamin, pemantauan tumbuh kembang hingga pemeriksaan kesehatan dasar.
“Ada warga yang memilih ke rumah sakit, padahal di posyandu ini lengkap dan gratis. Tapi kalau mereka mampu secara mandiri ya tidak masalah,” ujarnya. (Adv/Puskesmas/Bpp)













