GARVI.ID, BALIKPAPAN – Balikpapan, sebuah kota yang penuh sejarah, untuk pertama kalinya menjadi tuan rumah Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) XVII. Wali Kota Balikpapan, Rahmad Mas’ud, menyatakan rasa bangga dan gembiranya atas kepercayaan yang diberikan kepada Balikpapan untuk menyelenggarakan acara penting ini.
“Saya menyambut hangat dan mengucapkan selamat datang di Kota Balikpapan. Saya kira suasana yang sangat luar biasa ini, di usia APEKSI yang terus bertambah, telah banyak melahirkan berbagai gagasan konstruktif yang membentuk kota-kota sebagai gerbong lokomotif kemajuan bangsa di tengah zaman yang mengalami perubahan sangat cepat,” kata Rahmad Mas’ud, Senin (3/6/2024).
Rakernas APEKSI tahun ini difokuskan pada isu-isu terkini yang terkait dengan pembangunan perkotaan, baik berskala lokal maupun global. Selain itu, gala dinner di Balai Kota Balikpapan diadakan untuk memberikan kesempatan bagi para peserta melihat secara langsung situasi dan kondisi kota yang diharapkan menjadi penyangga dan teras Ibu Kota Negara (IKN) yang baru.Kota Balikpapan, yang tidak memiliki tambang atau ladang minyak, justru kaya akan kemajemukan dan keheterogenan masyarakatnya.
“Kota ini memiliki hampir 200 paguyuban, dari Sabang sampai Merauke. Bahkan satu rumah bisa terdiri dari tiga sampai empat suku di dalamnya. Jadi, Insya Allah, permasalahan isu SARA kemungkinan kecil sekali terjadi di Balikpapan,” tambah Rahmad Mas’ud.
Ketua APEKSI, Eri Cahyadi, juga menekankan pentingnya sejarah dan peran Balikpapan dalam pembangunan nasional. “Sejarah itu akan terulang kembali ketika ibu kota negara ada di Kaltim. APEKSI adalah untuk Indonesia. Saya sadar betul bahwa kota-kota yang ada di Indonesia memiliki kelebihan masing-masing. Bayangkan kalau kelebihan itu dijadikan satu kekuatan besar, tidak ada yang merasa lebih baik, tapi saling melengkapi, maka APEKSI bisa memberi yang terbaik untuk negeri ini,” ujar Eri Cahyadi.
Eri Cahyadi juga menegaskan bahwa dalam APEKSI tidak ada kota yang tertinggal. “Tidak ada di APEKSI ini istilah kota yang paling maju, karena buat saya yang paling maju adalah ketika bisa berintegrasi dan bersinergi antarkota. Maka itulah kemajuan untuk negara ini,” katanya.
Rakernas APEKSI diharapkan dapat memberikan usulan dan sumbangsih yang terbaik bagi APEKSI untuk Indonesia. “Karena banyak hal yang harus kita berikan masukkan yang terbaik, karena kota-kota ini, apapun yang terjadi di kota ini, maka APEKSI yang menjadi jembatan antara seluruh kota dengan Mendagri,” pungkas Eri Cahyadi.
Dengan terselenggaranya Rakernas APEKSI di Balikpapan, diharapkan mampu mempererat hubungan antar kota dan mendorong pembangunan yang lebih sinergis di Indonesia. (*)







