GARVI.ID, BALIKPAPAN — Di tengah padatnya kota dan hiruk pikuk aktivitas urban, Hutan Mangrove Margomulyo hadir sebagai oase hijau yang menenangkan. Kawasan seluas 16,8 hektare di Jalan AMD Gang 4 RT 42, Kelurahan Margomulyo, Balikpapan Barat, ini bukan hanya tempat wisata alam, tetapi juga ruang edukasi dan konservasi yang menyatu dalam keindahan ekosistem pesisir.
Hutan mangrove ini menjadi habitat bagi berbagai jenis flora dan fauna khas pesisir, mulai dari burung, ikan, hingga kepiting yang memiliki nilai ekologis tinggi. Selain menjaga keseimbangan lingkungan, kawasan ini juga mendukung kehidupan masyarakat sekitar — terutama nelayan yang bergantung pada hasil laut.
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Balikpapan, Ratih Kusuma, mengatakan Margomulyo memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi wisata unggulan berbasis alam dan edukasi.
“Margomulyo sempat hits karena sering dijadikan lokasi kegiatan penanaman bakau, termasuk oleh tokoh nasional. Ini peluang besar untuk terus kita kembangkan sebagai wisata berkelanjutan,” ujarnya, Minggu (9/11/2025).
Ratih menjelaskan bahwa salah satu fokus pengembangan ke depan adalah branding kawasan. Pemerintah berupaya memperkuat fasilitas, akses, dan pengalaman wisata agar pengunjung tidak hanya datang, tapi juga betah menikmati suasana.
“Beberapa wisatawan menyukai konsep alami. Jika di sekitar kawasan ini dibangun penginapan kecil atau villa bernuansa alam, tentu akan menambah daya tarik,” katanya.
Selain fasilitas, Ratih juga menilai pentingnya menghadirkan atraksi wisata baru. Saat ini, Margomulyo telah memiliki jembatan kayu sepanjang 800 meter yang melintasi pepohonan bakau serta beberapa gazebo untuk bersantai. Namun, kegiatan seperti pementasan budaya, outbound, atau tur edukasi menanam bakau diyakininya akan memperkaya pengalaman wisata.
“Jalur tracking di Margomulyo itu sudah bagus. Kalau ditambah aktivitas seperti pementasan atau kegiatan menanam bersama, pengunjung akan punya kesan mendalam,” tambahnya.
Ratih menegaskan, pengembangan wisata alam harus tetap berpijak pada prinsip konservasi dan pemberdayaan masyarakat.
“Wisata alam harus menjaga lingkungan, sekaligus memberi manfaat nyata bagi warga sekitar,” pungkasnya. (Adv/Disporapar/Bpp)













