GARVI.ID, BALIKPAPAN – Skrining HIV di Puskesmas Karang Jati kini menjadi salah satu pintu penting dalam menemukan kasus baru HIV. Setiap hari, petugas kesehatan menerima pasien dengan beragam keluhan, mulai dari tuberkulosis, diare berkepanjangan, hingga infeksi menular seksual. Banyak dari mereka baru mengetahui status HIV setelah melalui proses skrining yang dilakukan dengan pendekatan persuasif.
Kepala UPTD Puskesmas Karang Jati, dr. Niken Dayu Anggraini MARS, mengungkapkan bahwa temuan kasus HIV sering muncul dari hasil skrining pada kelompok tertentu.
“Sering sekali awalnya pasien datang untuk periksa TB, infeksi seksual, atau diare yang tidak sembuh-sembuh. Setelah kami tawarkan skrining, barulah diketahui bahwa mereka juga positif HIV,” ujarnya, Selasa (25/11/2025).
Selain pasien berisiko, semua ibu hamil dan calon pengantin juga menjalani pemeriksaan HIV. Namun, pemeriksaan untuk calon pengantin memiliki tantangan tersendiri.
“Kami wajib menjaga rahasia medis. Jadi kalau salah satu calon pengantin positif HIV, kami tidak bisa memberi tahu pasangannya. Kami hanya bisa membujuk agar pasien berterus terang,” jelas dr. Niken.
Ia mengakui bahwa situasi tersebut menjadi dilema. Sebagian pasien butuh waktu untuk menerima hasilnya, namun sejauh ini sebagian besar akhirnya memilih jujur kepada pasangannya. Banyak dari mereka tetap melanjutkan pernikahan setelah memahami bahwa HIV dapat dikendalikan.
“HIV memang tidak bisa disembuhkan, tapi dengan obat yang diminum rutin setiap hari, titer virus bisa tetap rendah dan tidak menularkan,” katanya.
Risiko penularan kepada anak juga bisa diminimalkan bila ibu mendapatkan pengobatan sedini mungkin. Yang menjadi tantangan adalah pasien yang datang dalam kondisi sudah mengalami AIDS, di mana berbagai penyakit penyerta telah muncul dan penanganannya lebih berat.
Puskesmas Karang Jati terus menekankan pentingnya skrining tanpa paksaan. Pendekatan ini dinilai lebih manusiawi dan membuat pasien merasa aman untuk melakukan pemeriksaan.
“Kami selalu edukasi pelan-pelan. Yang penting pasien siap dengan hasilnya. Selama ini, pendekatan seperti ini cukup berhasil,” tutur dr. Niken.
Dalam keseharian, petugas kesehatan berupaya menciptakan suasana pemeriksaan yang hangat, tidak menghakimi, dan fokus pada pendampingan. Bagi mereka, skrining bukan sekadar prosedur medis, tetapi jalan awal bagi pasien untuk menemukan harapan baru. (Adv/Puskesmas/Bpp)










